Hadiri Malam Pemilihan Duta Genre, Jarot Ingatkan Tantangan Indonesia Emas 2045

SINTANG, BK – Bupati Sintang Jarot Winarno, menghadiri malam puncak pemilihan Duta Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Sintang tahun 2020, sekaligus berakhirnya pelaksanaan musyawarah daerah (Musda) forum GenRe Kabupaten sintang, di Resto and Café Bagoes Hotel Sintang, Jalan Dharma Putra, Kecamatan Sintang, Kamis (2/7/2020) malam.

Kegiatan ini di laksanakan oleh Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kab. Sintang.

Dalam sambutannya Jarot mengatakan, bahwa dirinya mengingatkan kembali tantangan dalam menyonsong Indonesia emas 2045 mendatang tepat satu abad Indonesia Merdeka atau 25 tahun kedepan. Karena para peserta yang ikut dalam kegiatan musda GenRe dan pemilihan Duta Genre ini merupakan anak-anak usia remaja, dimana pada tahun tersebut mereka akan memasuki masa usia emas sebagai generasi penerus bangsa.

“Saat itu Indonesia diprediksi akan menjadi bangsa terbesar ketiga di dunia. Namun menurut saya untuk mencapainya harus melewati berbagai tantangan,” katanya.

Seperti kata Jarot syarat pertumbuhan ekonomi  Indonesia itu harus diatas 6-7 persen tiap tahunnya dan generasi bangsanya atau para remaja di negara ini juga harus menyiapkan diri mulai saat ini, barulah Indonesia Emas 2045 bisa tercapai.

“Untuk mencapai itu nda gampang, dari sekarang harus disiapkan semuanya, terlebih usia mereka ini masih tahap cupu, senang-senang dan cinta, kira-kira seperti itu,” kata Jarot.

Lalu, menurut Jarot, untuk mempersiapkan generasi Indonesia emas 2045 mendatang, para remaja tidak hanya di beri arahan dan petunjuk saja, tapi mereka juga harus di beri kesempatan untuk mengembangkan diri. Untuk itulah, Pemkab Sintang berkomitmen memberikan kesempatan kepada generasi muda mengembangkan diri melalui berbagai wadah yang telah di siapkan pemkab.

“Taman-taman, ruang publik kita bikin, kegiatan olahraganya kita lombakan. Kemarin lomba video innovasi new normal kita ikut enam sektor ya, yang ngerjakan itu anak-anak muda kreatif di sintang, Alhamdulillah kita juara 1 di sektor pariwisata, juara 1 sektor transportasi umum dan juara 3 sektor perhotelan. Ini lah salah satu contoh dalam pengembangan diri,” beber Jarot.

Selain itu juga, menurut Jarot, yang harus di miliki generasi saat ini dalam menyonsong Indonesia emas 2045, yakni confident atau percaya diri/keyakinan agar menggantung cita-citanya setinggi mungkin. Meskipun hal itu tidaklah mudah, kerena berbagai tantangan akan di hadapi seperti adanya distruksi teknologi yang merubah tata kehidupan generasi saat ini atau yang di sebut generasi millennial.

“Masih usia dini sudah pegang gudget atau hp, main game, itu sudah merubah pola hidup kita. Jadi kasih sayang anak-anak itu 80 persen pada gudget 20 persen saja tu sama orang tua, saudara dan keluarga,” tegasnya.

Kemudia lanjut Jarot, yang akan menjadi tantangan juga dalam menghadapi Indonesia emas 2045 yakni bonus demografi. Dimana manusia produktif usia 15-64 tahun lebih banyak dari manusia yang tidak produktif usia diatas 64 tahun atau di bawah 15 tahun.

“Nah para peserta yang masih usia remaja ini bagian dari manusia produktif, akan jadi bonus buat negara ini kalau produktif nantinya bila bekerja atau berkarya, namun jika tidak bekerja dan tidak  berkarya pada saatnya nanti, itu bukan menjadi bonus, tapi menjadi laibility atau beban negara. Sehingga bonus demografi itu harus di lewati,” jelas Jarot.

Kemudian lagi, lima tahun sebelum 2045, yakni 2040, ada saatnya kita akan defisit energy fosil, seperti minyak susah, premium susah, batu bara susah. “Baru kalian sadar 20 tahun kami sia-siakan hutan dan isinya. Tantangan itu harus di lewati juga,” katanya

Jarot mengungkapkan, ada dua kepribadian yang memang harus diperhatikan serius oleh para usia remaja dalam mempersiapkan dirinya. Yang pertama, pure pressure atau tekanan dari teman-teman sendiri. Contoh, diajak ngerokok kalau tidak ngerokok jangan ikut ngumpul.

“Lama-lama ujungnya nyoba-nyoba, yang lagi juga free sex dan masih banyak tekananan yang sering terjadi tu kalau ikut-ikutan coba-coba,” ungkap Jarot.

Yang kedua, kata Jarot, free stalking behavior atau coba-coba ambil resiko misal coba menggunakan obat terlarang atau narkoba sejenisnya. “Coba-coba ni kadang-kadang bahaya juga, coba konsumsi narkoba lah, sejenisnya segala, nanti keteruskan ingin lagi,” kata Jarot.

Dua tantangan kepribadian itu menurut Jarot harus disublimasikan atau alihkan ke hal-hal lain yang lebih bermanfaat untuk masa depan, misalnya seni, kreatifitas, musik, olahraga, jelalah alam, travelling, tracing, perkuat diri dengan ilmu agama dan hal lain yang bermanfaat. Salah satunya yang diajarkan agama, berkumpullah dengan orang baik, maka akan jadi baik.

“Buat yang menang, jadi duta, beban kalian lebih berat, kalian itu contoh. Sudah jadi duta jangan lalu ngasi contoh yang gak baik. Jangan coba napza, jangan coba sex sebelum nikah dan jangan coba hal negatif lainnya,” pungkas Jarot. (*)

__Posted on
07/03/2020
__Categories
SINTANG