Cegah Karhutla, Pemkab Sintang Terus Sosialisasikan Perbup Terkait Karhutla

SINTANG, BK – Wakil Bupati Sintang, Askiman memimpin pelaksanaan sosialisasi Peraturan Bupati Sintang Nomor 18 Tahun 2020 khusus untuk wilayah Kecamatan Kayan Hulu, Rabu (1/7/2020) di Gedung Serbaguna Kecamatan Kayan Hulu.

Dikatakan Askiman dalam sosialisasi tersebut, bahwa persoalan karhutla bukan terjadi saat ini saja, tetapi sejak dulu sudah sering. Guna mencegah itu terjadi, maka Pemkab Sintang tidak henti-hentinya mensosialisasikan peraturan Bupati Sintang Nomor 18 Tahun 2020 ini.

“Perbut tersebut tentang tata cara pembukaan lahan bagi masyarakat Kabupaten Sintang yang telah di ubah dengan Peraturan Bupati Sintang Nomor 31 Tahun 2020,” terang Askiman.

Masalah karhutla yang selama ini dihadapi hampir setiap tahun. Kejadian kebakaran lahan dan hutan ini sangat perlu kita perhatikan dan antisipasi kedepannya. Perbup ini diharapkan mampu mengatur tata cara pembakaran lahan saat warga membuka ladang.

“Kita Perlu bersama-sama dalam mengatasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan menerapkan peraturan ini.  Perbup ini juga dibuat untuk melindungi para peladang dari masalah hukum jika terjadi kebakaran lahan saat membuka ladang,” terangnya.

Kepala desa kata Askiman, bisa saja menganggarkan biaya gotong royong saat membakar ladang ini, seperti untuk membeli alat pemadam dan biaya lainnya. Sehingga mampu mengendalikan kegiatan bakar ladang.

“Saya yakin, jika kita ikuti perbup ini, maka akan mampu mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Tanggap darurat kebakaran lahan dan asap tidak sembarangan di tetapkan, seperti jika terjadi kepekatan asap yang luar biasa saja,” terangnya.

Untuk Kecamatan  Kayan Hulu ini, Askiman mengatakan, ia lihat tata cara berladang sudah sanggat bagus dan rapi.  Ia tahu, saat warga membakar ladang, sekat api bersih sampai ke kulit tanah dan jaraknya pun sampai 4 meter. Kayu-kayu di tumpuk dengan rapi dan terpola,  jadi saat menaman padi (nugal), susunan padi pun rapi.

“Saya minta kepada para kepala desa, supaya mengimbau masyarakatnya jika pihak perusahan ingin menawarkan lahan untuk berladang, jangan mau. Lahan milik perkebunan tidak boleh untuk tempat berladang,” katanya.

Menurut kepercayaan leluhur kita orang Dayak, kata Askiman, hutan merupakan supermarketnya orang Dayak. Di situlah tempat mereka mengambil hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan mereka.

“Jadi orang Dayak bukan perusak hutan.” pungkasnya. (*)

 

__Posted on
07/02/2020
__Categories
SINTANG