Dua Wanita Bercadar Yang Viral Gerakan Shalatnya Datangi Polres Ketapang

Foto bersama Dua Kakak Beradik Bercadar Sesaat setelah Melakukan Klarifikasi Di Mapolres Ketapang

KETAPANG, BERITA KALBAR.COM– Akhir-akhir ini kota Ketapang dihebohkan video gerakan sholat dua wanita bercadar yang viral di media Sosial Facebook. Video tersebut pertama diunggah pada tanggal 6 Mei 2018 saat mereka sholat isya di masjid Al Murtadha, Kelurahan Sampit Delta Pawan.

Tak hanya gerakan Shalat, dalam video yang disebar oknum pengguna Facebook itu juga sertai dengan bahasa-bahasa yang terkesan menakutkan seiring terjadinya kasus Bom Gereja di Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Serta kasus Kejadian di Mako Brimob.
Kemudian, oknum tersebut juga menyebarkan bahwa kelompok dua wanita bercadar itu ada enam orang. Dan melakukan pemantauan di Lapas Kelas II Ketapang yang ada hubungannya dengan narapidana teroris didalam sel itu.

Atas beredarnya video tersebut, dua remaja wanita itu mendatangi Mapolres Ketapang untuk melakukan Klarifikasi kepada Polres Ketapang, Selasa (15/5/2018). Dalam klarifikasi itu dihadiri Kapolres Ketapang AKBP Sunario,S.Ik, Pengurus MUI KH Abdullah Al Faqir, Ketua FKUB Pendeta Yance dan Romo Mateus Juli.

Kapolres Ketapang, AKBP Sunario, S.Ik mengatakan, dari hasil pemeriksaan kepada dua orang remaja yang didalam video, mereka merupakan kakak beradik bernama Riska dan Sarmila. Mengenai gerakan sholatnya, setelah diperagakan memang tubuhnya agak ‘’ saat gerakan ruku’ dan sujud.
“Setelah kita peragakan cara sholatnya, tubuh adek ini terutama Sarmila memang bawaan lahir dan agak melengkung kebawah pinggangnya. Tapi gerakan-gerakan sholatnya itu memang seperti gerakan sholat umat muslim pada umumnya,” kata Kapolres Ketapang kepada media diruang kerjanya, Selasa (15/5/2018).

Lebih lanjut dijelaskannya, kedua remaja tersebut juga warga asli Ketapang, yang tinggal dekat Panti Jompo di belakang Bank Kalbar, Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Delta Pawan Ketapang. mereka juga kuliah di Kampus Politeknik Negeri Ketapang (Polinka).

“Jadi adanya isu bahwa mereka ini pendatang yang memoto-moto gereja, LP dan melaksanakan ajaran-ajaran lain itu hoax atau tidak benar. Untuk pakaiannya memang bercadar,” tegas Sunario.

Terkait penyebar video, Kapolres menegaskan akan mencari pelakukanya guna mengetahui tujuannya dan maksudnya. Lantaran video itu sudah meresahkan masyarakat ketapang, terutama ke dua remaja yang jadi objek video itu.

“Video ini tersebar setelah adanya kejadian bom di Surabaya, lalu kemudian dimunculkan dengan berbagai bumbu bahasa. Sementara mereka melakukan sholat di Masjid Al Murtadha sebelum ada kejadian di Surabaya,” terangnya.

Dengan adanya kejadian ini, ia menghimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu cepat menyebar luaskan video-video belum tentu kebenarannya. Serta masyarakat juga jangan mudah percaya dengan berita tak bersumber.

“Saya mohon dengan masyarakat Kabupaten Ketapang jangan mudah percaya berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Untuk persoalan ini telah kita tindak lanjuti,” tutupnya. (AHA)

__Posted on
05/16/2018
__Categories
KETAPANG