Dorong Pemerintah Bangun Jalan Poros Desa 

Sintang, BK- Wakil ketua dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Sintang Sandan mendorong pemerintah membangun jalan poros penghubung ibukota kecamatan ke desa. Pembangunan diharapkan bisa menjadi prioritas untuk wilayah perhuluan seperti di Serawai dan Ambalau. 

“Banyak desa belum mempunyai akses jalan darat menuju ibukota kecamatan. Kita harap pemerintah bisa melihat pembangunan yang memang harus diprioritaskan,” kata Sandan. 

Menurut Sandan seyogyanya membangun jalan poros penghubung ke desa dapat dilakukan pemerintah dengan membuat program secara terinci. Jangan sampai penganganggaran pembangunan dikucurkan untuk hal tidak mendesak. Misal jalan sudah dianggarkan kembali didanai. Padahal dana dapat dialihkan mestinya untuk membangun jalan yang lebih mendesak diperlukan masyarakat. 

Sandan mencontohkan, seperti di kecamatan Ambalau, hampir secara keseluruhan antara desa ke ibukota kecamatan belum terhubung akses darat. Padahal akses jalan merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat. Kelancaran transportasi pendukung utama dalam memajukan ekonomi serta pembangunan. 

Menurut Sandan bila masyarakat terus menggantungkan dengan transportasi dengan akses sungai biayanya sangat mahal harus ditanggung. Padahal mobilitas masyarakat juga perlu didukung sarana dan prasarana memadai. “Kita belum bicara jalan Ambalau ke Sintang. Jalan darat mesti sudah dibangun tapi belum terlalu memadai,” katanya. 

Sandan menambahkan ada dua kecamatan di Sintang yang akses penghubung masyarakatnya masih bergantung dengan jalur sungai. Ambalau dan Serawai. Dimana kecamatan Ambalau terdiri atas 33 desa. Sementara Serawai wilayahnya mencakupi 38 desa. Masyarakat membutuhkan jalan. “Mudahan kedepan bisa diwujudkan pemerintah,” katanya. 

Camat Ambalau Iskandar mengatakan untuk turun ke ibukota kabupaten, masyarakatnya masih banyak menggunakan transportasi sungai. Kendati cukup tinggi biaya yang dikeluarkan. Angkanya kisaran Rp 800 ribu sekali jalan. Belum termasuk biaya makan dan penginapan. Sementara jika akses darat sudah lancar, paling mahal biaya perjalanan ke Sintang memakan ongkos Rp 200 ribu. 

“Kalau tidak ada jalan, kendala misal saat harus ada rujukan mendadak ke Sintang. Apalagi kalau malam-malam. Otomatis harus carter speedboat. Biaya carter tidak murah. Ini masih menjadi beban masyarakat,” kata Iskandar. (jie) 

__Posted on
01/10/2017