Atur Tata Niaga Kelapa Sawit

 

Sintang,BK- Saat ini,  Kelapa sawit menjadi produk unggulan di kabupaten Sintang. Namun, dalam pengembangan yang ada perkebunan kepala sawit mengalami tuntutan strategis, yang merujuk pada pemahaman dan pengelolaan industri sawit yang rama lingkungan.

” Tata niaga kelapa sawit kurang menguntungkan sehingga berimplikasi pada pendapatan para petani,” kata Kasi Perkebunan Rakyat, Dishutbun Sintang, saat memberikan materi di Forum Kelapa Sawit Berkelanjutan di Kabupaten Sintang, Kamis (15/12).

Arif mengatakan, berdasarkan UU No. 39 Tahun 2014, Pasal 3 menyebutkan bahwa penyelenggaraan perkebunan antara lain memiliki tujuan yaitu peningkatan kemakmuran masyarakat. Kemudian , pengembangan kelapa sawit dimulai dengan perkebunan rakyat (PR).

“Melalui pola PIR/ NES bantuan Bank dunia yang sudah menganut persyaratan pembangunan berkelanjutan kelapa sawit,” kata dia.

Menuutnya, dengan keberhasilan proyek PIR / NES menjadi rujukan pengembangan kelapa sawit selanjutnya. Buktinya,  Indonesia menjadi negara produsen kepala sawit terbesar di dunia sejak tahun 2016 . ” Ini marketing share ekspore.  kita sangat menguasai,  Makanya kelapa sawit masuk dalam komiditas unggulan yang dikeluarkan oleh kementrian dari 16 komiditas yang ada,” paparnya.

Sementara,  berdasarkan aturan pemasaran yang ada, kata Arif, sudah jelas dan  tertuang di Permen pasal 57. Dimana,  perusahaan perkebunan diminta untuk  melakukan kemitraan usaha perkebunan yang saling menguntungkan, saling menghargai saling, bertanggungjawab serta memperkuat dan saling ketergantungan dengan pekebun , karyawan dan masyarakat sekitar perkebunan.

” Artinya, ada iuran retribusi anggota koperasi dan kelompok tani lainya dengan pungutan retribusi  sebesar 1 persen dari nilai TBS yang dihasilkan,” jelasnya (jie)

__Posted on
12/26/2016
__Categories
SINTANG